Featured

Intan Hitam Perbatasan-1

Intan Hitam Perbatasan-1
Lada hitam di atas lampit penjemuran di Desa Puntikayan lk 6 km dari jalan raya Entikong.

Musholla terdapat di hotel ini. Sebuah ruangan yang menghadap jalan raya ditandai dengan sebuah tikar permadani merah. Saya tidak melihat adanya arah kiblat. Namun ada sesuatu yang menjadi tanda. Yakni stiker panah yang dipasang di langit-langit ruangan.

Hotel ini memiliki kafe. Sejak kami tiba sekitar pukul 21.30, masih banyak penikmat kopi di kafe. Namun karena esok mesti bangun pukul 04.00 buat meliput tapal batas, kami tidur awal. Kecuali Agus masih menikmati kopi di kafe lantaran penikmat kopi itu juga rekan sekerja Agus di BNPP. “Saya aru rebah tidur puul 01.00,” katanya.

***

Pagar border terkunci rapat. Saya hitung ada enam bus sedang berderet rapi dengan tujuan ke Kota Kuching. “Kami sudah tiba di sini sejak pukul 03.00,” kata salah seorang penumpang. “Kami menunggu border buka sekejab lagi,” imbuhnya.

Jalanan tempat bis berderet rapi berada di badan jalan yang lebar. Di sebelahnya masih ada satu jalur lagi. Jalur ini digunakan untuk kendaraan para petugas. Ada beberapa pria berseragam menjaga pintu pagar. Pintu khusus petugas dibuka kala ada pekerja yang numpang lewat.

Bentangan pintupagar sangat lebar. Luas pagar selaras dengan bangunan Border Entikong yang megah. Dari kejauhan terlihat tugu Garuda Pancasila, lampu-lampu warna keemasan di tiang-tiang tinggi. Kesan mewah tertangkap mata.