Mereka berjanji akan sama-sama melaksanakan latihan Besangen sebagai bentuk pewarisan kepada generasi muda Desa Batu Omas, seperti program yang dimaksudkan oleh tim revitalisasi sastra lisan Besangen ini.
Ibu Maini Trisna Jayawati, perevitalisasi bidang pelindungan dalam pengamatannya mengatakan bahwa tradisi Sangen ini hidup dengan normal dalam masyarakat. Akan tetapi, gaungnya yang tidak terdengar ke luar desa. Eva Yenita Syam, peneliti sastra lisan Badan Bahasa Kemdikbud menambahkan ketika diadakan pertemuan dengan anak-anak sekolah di Desa Batu Omas, dan anak diperkenalkan dengan sastra lisan Besangen terlihat mereka sangat antusias. Eva meyakini bahwa nilai yang terkandung dalam sastra lisan akan bermanfaat bagi anak-anak dalam kehidupan. Baik tentang sikap santun dan menghargai orang yang lebih tua dari mereka dll. Selain itu, sebagai kegiatan tahap awal, koordinasi ini bertujuan mengenalkan Besangen sebagai budaya yang berisi pembelajaran kepada generasi milenial agar tetap ‘melek’ kearifan yang bermanfaat sekaligus menghargai jati diri mereka, sebagai pemilik budaya dan tradisi yang sesungguhnya bernilai tinggi ini. *
