Kelapa tersebut diletakkan di tengah-tengah, antara orang-orang yang membaca doa. Doa yang dipanjatkan agar anak yang dalam kandungan sehat, dan lahir menjadi anak yang saleh-salehah. Surah wajib yang dibaca dalam adalah surah Yusuf dan Maryam.
“Kalau Surah Yusuf bisa ganteng seperti Nabi Yusuf, kalau Surah Maryam secantik Maryam”, harapan dari mertua.
Selain Kelapa, ada juga air bunga. Bunga tersebut bermacam-macam. Tidak sampai 7 jenis seperti biasa orang sebut Kembang 7 rupa. Bunga tersebut, Kemuning, Mawar putih, Bogenvil atau disebut bunga kertas bewarna ungu dan merah muda, bunga jarum-jarum bewarna merah, dan daun pandan. Daun pandan diiris tipis seperti untuk bunga rampai.
Setelah dibacakan doa, kelapa ditandai di bagian mana untuk membelahnya. Pak Aji, kemudian menunjukan posisi tersebut. Posisinya memang tidak ada pada kulit yang tertulis. Bagian bidang dari tiga sisi kelapa. Kalau untuk jurus membelah kelapa, seharusnya memang di bagian datar tersebut. Namun, apakah ada hubungannya. Entahlah.
Memudahkan agar saat dibelah posisinya tidak salah, bagian itu digaris dengan paku. Berbentuk horizontal. Kemudian paku ditancap miring.
“Jangan disimpan di bawah, simpan di atas lemari”, kami dipesankan.
