Alat dari besi untuk membuat “parit” atau jalan beras, masih disimpan. Sempat ditunjukkan besi kecil panjang yang sudah berkarat, tanda lama tak dipakai.
Kisar itu dahulu digunakan untuk menggiling padi. Dalam jumlah banyak padi tidak perlu ditumbuk.
Kisar merupakan bagian dari teknologi pertanian masyarakat pedalaman. Di Sungai Tapah, di ujung Sekadau, ada. Dahulu, di Jangkang, ujung Sanggau, juga ada. Di Riam Panjang, kampung saya di Kapuas Hulu juga ada.
Di sini, kisar ini sudah lama tidak dipakai. Di Riam Panjang keadaannya lebih lagi. Sejak tahun 1980an, wujud kisar tak pernah terlihat. Benar-benar punah. Saya duga generasi sekarang mungkin tak mengenal kosa kata itu.
Kisar hilang karena kehadiran mesin padi. Mesin padi bekerja lebih cepat. Tak perlu banyak tenaga.
Kisar memerlukan banyak tenaga untuk memutar kayu bagian atas agar menekan butir padi, melepaskan kulitnya. Padi dikeluarkan sedikit demi sedikit. Jadi prosesnya agak lama.
Kisar akan hilang selamanya. Hilang bersama istilah dari bagian-bagian kisar itu.
Hilang bersama alat pembuatnya. Hilang bersama pengetahuan dan istilah dalam proses pembuatannya.
Harapan kisar “hidup kembali” juga kecil. Sekarang semakin sedikit warga yang bertanam padi. Lahan untuk padi kian terbatas karena lahan kini lebih banyak digunakan untuk perkebunan karet dan kemudian sawit. (*)
