Ayahnya Sayid Habib Husein Al Kadrie, seorang keturunan Arab yang telah menjadi warga kerajaan Mantan. Ibunya juga adalah seorang putri dari kerajaan Matan, yang menurut penulis Belanda JJK Enthoven, adalah seorang putri Dayak yang telah menganut agama Islam. 17 Tahun Lamanya Habib Husein menjadi ulama Islam di kerajaan Matan. Sayyid Husein Al Qadri kemudian pindah ke Mempawah, menjadi penyiar agama dan tuan besar Mempawah setelah Raja Mempawah Opu Daeng Menambon meninggal. Syarif Abdurrahman bergelar pangeran kerana Ia adalah putra tuan besar Mempawah dan ia pun menjadi menantu Raja Opu Daeng Menambon, ketika ia dikawinkan dengan Putri Candra Midi. Begitupun ketika ia kawin lagi dengan Putri Raja Banjar yang bernama Ratu Syahranom, ia diberi gelar Pangeran Syarif Abdurrahman Nur Alam.

Berdasarkan nasab riwayat keturunan yang tersirat bahwa Syarif Abdurrahman adalah Putra asli Kalimantan Barat, putra dari seorang ulama Islam Habib Husein Al Kadrie Ibunya seorang putri kerajaan Matan Nyai Tua, istrinya Syarif Abdurrahman seorang putri kerajaan Mempawah. Ia seorang yang mendapat pelajaran dan pendidikan agama Islam dari ayahnya. Ia juga seorang pedagang yang di waktu mudanya telah mengelilingi daerah Tambelan, Siantan, Siak dan Riau, Palembang, Banjar dan pasir di Kalimantan Timur. Ia telah berhubungan dagang dengan pedagang Indonesia, Arab, India, Inggris, Belanda, Perancis dan Cina. Dari pengalamannya ini Ia berhasil membangun Armada dagang yang diperkuat dengan Belanda.