Suku Dayak yang merupakan penduduk asli daerah tersebut justru kurang tertarik untuk berurbanisasi ke pontianak, padahal suku bangsa lain dari luar Kalimantan Barat secara terus-menerus bermigrasi ke Pontianak. Jumlah orang Dayak yang menetap di Pontianak realitif lebih kecil dibandingkan dengan Suku bangsa lain. Hal ini disebabkan orang Dayak selalu mengikut sesuatu filsafat bagi hidupnya. Menurut pandangan mereka bahwa hakikat hidupnya adalah sebahagian petani padi. Pekerjaan sebagai Petani dipandang paling mulia karena merupakan rahmat bagi kehidupannya. Oleh karena itu menjadi Petani tentu saja tidak dapat menetap di Pontianak karena tidak tersedianya lahan pertanian yang cukup, apa lagi jika harus menganut sistem perladangan berpindah, mereka bermukim dan membuat Perkebunan di sekitar Sungai Ambawang seperti Kuala Ambawang, Pancaroba, Pugok, Retok, Lingga, dan sebagainya.
Kemudian di luar Istana Kesultanan Pontianak terdekat bermukin para kerabat istana, sedangkan di luar pemukiman kaum kerabat istana terdapat keluarga para hulubalang atau pembantu kesultanan, dan ini terdiri atas orang Bugis dan Keturunan Arab. Kaum kerabat Istana dan hulu-balang tinggal di Kampung Dalam Bugis, Kampung Arab, dan Kampung Banjar. Di luar pemukiman para hulubalang adalah Kampung Tambelan. Nama ini sesuai dengan asal Panglima Abdul Rani, salah seorang utusan dari Kerajaan Riau yang ingin menyerang Kesultanan Pontianak, tetapi dapat dikalahkan oleh sultan. Atas kebijakan sultan, ia diberi izin untuk membuka kampung tersebut.
