Pemberian ini dikenal dengan nama Tanah Seribu atau Verken-depaal yang meliputi areal seluas seribu kali seribu meter persegi. Daerah ini meru-pakan inti perkembangan daerah administrasi kota yang kemudian menarik orang-orang Cina untuk menetap dan mengembangkannya sebagai daerah perdagangan (sekarang menjadi kawasan Jalan Gajah Mada) karena telah terbukanya pusat pemukiman dan perkantoran gubernemen yang merupakan awal dari perluasan kekuasaan Kolonial Belanda di daerah ini.

Sejak didirikannya pusat pemerintahan di bagian selatan Sungai Kapuas (sekarang Kantor Walikota Pontianak) dan di dekatnya didirikan pula benteng kecil pertahanan yang dinamakan Fort Du Bus (sekarang kawasan perdagangan dan pertokoan Nusa Indah), orang Eropa dan pejabat pemerintahan Belanda menetap di kawasan tersebut dan di depannya dibangun sebuah pelabuhan

Sungai Kapuas. Wilayah pemukiman orang Eropa, terutama Belanda.
Berdasarkan paparan diatas memberikan gambaran, bahwa wilayah Kesultanan Pontianak sangat multi etnis, oleh keberadaan Kesultanan Pontianak pada awalnya mengayomi semua etnis itulah khasanah budaya dan persaudaraan antar etnis yang perlu di jaga marwahnya masing masing sebagai keunikan dan egaliter penduduk Pontianak sampai saat ini.

Kapan Syarif Abduraman Alkadrie dilantik Sultan, dalam catatan sejarah Haji Muda dari Riau sebagai sahabat yang telah banyak membantunya. Raja Muda Riau, Raja haji, berperan banyak dalam mempersiapkan Syarif Abdurrahman menjadi Sultan Pontianak. Karena itu sudah dikenal oleh para Sultan dan Panembahan di Kalimantan Barat, Maka Raja Haji berkirim surat mengundang para penembahan landak, Mempawah, Kubu, dan Sultan Matan serta Sukadana dan Sambas untuk datang berkumpul di Pontianak. Kedatangan mereka dipersiapkan untuk menyaksikan pengangkatan Syarif Abdurrahman menjadi Sultan Pontianak.