Kultur

Perayaan Setelah Kematian dalam Dialek Sambas

Perayaan Setelah Kematian dalam Dialek Sambas

Barangkali aneh ketika ungkapan perayaan disandingkan dengan kematian. Pasalnya perayaan identik dengan kegembiraan dan pesta suka ria, sementara kematian mengindikasikan pada kesedihan, berkabung atau berduka cita karena ditinggal selamanya. Menurut hemat penulis, disebut sebagai perayaan disini bukan berarti keadaan bergembira atas kematian seseorang. Namun perayaan ini menunjukkan adanya sebuah prosesi yang di dalamnya terdapat ritual ibadah serta disajikannya makanan untuk warga setempat yang di undang.

Istilah perayaan setelah kematian dalam dialek Sambas disebut Miare. Menurut Sunandar pada penelitiannya “Tradisi Miare dalam Masyarakat Melayu Sambas” dalam buku Seni, Budaya & Sejarah Pejuang Sambas” menyebutkan bahwa miare adalah sebutan dalam bahasa Melayu Sambas yang berarti memelihara arwah seseorang yang telah meninggal dunia. Bentuk pemeliharaan ini dilakukan dengan sedekah walaupun hanya selembar daun sirih. Hal ini dimaksudkan untuk meringankan siksa kubur orang yang sudah meninggal dengan perhitungan hari.

Kesimpulannya menurut Sunandar, bahwa miare adalah upacara pengiriman doa dan mengeluarkan sedekah untuk orang yang telah meninggal, dalam hal ini dilakukan oleh ahli waris almarhum dengan dilaksanakan berdasarkan hitungan hari yang telah ditentukan. Bagi keluarga yang melaksanakan, ini menjadi tanggung jawab dan merupakan bentuk penghormatan serta kasih sayang terhadap almarhum sekaligus ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala.