Diantaranya Sari Muke, disajikan pada malam ke-2 bermakna melukiskan wajah simayit yang masih berseri-seri. Nasi Lengkap pada malam ke-3 dengan tiga jenis lauk dan juga malam ke-7. Kelapon disajikan pada malam ke-4 dimaknai dengan mata mayit yang mulai bengkak. Ukal Inti atau Dokok-dokok disajikan pada malam ke-5 yang mengibaratkan kain kafan dan bantal mayit, kemudian ditambah dengan Pasung yang berarti telinga mayit. Turak makanan ini diibaratkan dengan lengan mayit dan ikatannya pada kain kafan, jumlah kue biasanya enam macam dengan menyertakan kue pada malam sebelumnya. Serabi disajikan pada malam ke-15 yang dimaknai kondisi tubuh mayit mulai membengkak. Malam ke-25 disajikan kue Apam yang menggambarkan kondisi daging mayit semakin membengkak. Sementara malam ke-40 disajikan kue Cincin berbentuk rantai yang mengibaratkan tubuh mayit sudah dimakan cacing. Sedangkan malam ke-100 disuguhkan kue Buah Ulu yang melukiskan bahwa daging mayit hancur dimakan ulat dan cacing. Untuk hari yang ke-1000 biasanya masyarakat melayu Sambas menamainya dengan Hol atau dalam bahasa Indonesianya Haul. Adapun haul ini sebagian saja yang masih melakukan.
Perayaan Setelah Kematian dalam Dialek Sambas
