Setiap kali mendengar atau membaca nama Anhar Gonggong, saya teringat sebuah momen penting dalam hidup saya sebagai wartawan dan penulis buku. Tepatnya pada tahun 2011 saya diundang ke Mabes Polri untuk menuliskan biografi seorang yang cakap, jujur dan adil di mata para Bhayangkara. Dia adalah Komjen Jusuf Manggabarani. Putra daerah asal Makassar, Sulawesi Selatan. Sosok bangsawan yang juga rupawan.

Setelah bekerja keras menyelesaikan biografi orang kuat yang banyak menghabiskan karirnya di kesatuan utama Brigadir Mobil (Brimob), tibalah saat persiapan peluncuran buku setebal 444 halaman tersebut.

Di ruang kerja Wakapolri, panitia teknis launching buku bertanya, siapa yang akan bertindak sebagai pembedah buku? Disebutlah nama Jusuf Muhammad Kalla. Kenapa dia? Karena Jusuf Kalla kenal baik dengan jejak karir Jusuf Mangga dari muda. Jusuf Kalla juga disegani karena menjadi RI-2 bersama pasangannya RI-1 Susilo Bambang Yudhoyono. Saya wawancara khusus sebelumnya dengan JK di PMI didampingi editor buku saya wartawan senior di Aceh namun ditempatkan di Jakarta, Murizal Hamzah. Kami kebetulan sama-sama mendapatkan fellowship ke Amerika Serikat masing-masing tahun 2002 dan 2004.

Lantas siapa lagi pembedah bukunya? Dicarilah figur muda intelek yang kritis dan independen Teten Masduki. Namun Teten berhalangan di waktu hari H, jam H, sehingga dirujuk nama Ketua Kontras, Usman Hamid.