Saya memegang diktat usulan calon pahlawan nasional yang juga dipegang Prof Anhar Gonggong. Saya bukan sejarawan, hanyalah seorang wartawan yang memberitakan seputar Hamid sejak tahun 1994. Sejak aktif sebagai wartawan kampus, saya yang semula dari SD-SMA membaca buku sejarah bahwa Hamid adalah pengkhianat negara pelan-pelan berubah. Bahkan ke sini-sini saya menilai banyak jasa Hamid yang pantas kita hormati dan dia pantas diajukan sebagai pahlawan nasional.
Saya tidak kecoh dengan uraian Prof Anhar karena foto yang dibacakan teksnya itu hanyalah 1 dari 120-an foto. Kesemua foto itu hanya yang terdapat dalam lampiran, di luar foto halaman utama dari diktat setebal 211 halaman.
Selengkapnya pada diktat usulan terdiri dari rekomendasi Pemda (Gubernur Kalbar), surat pengantar dari Dinas Sosial, rekomendasi dari Walikota Pontianak, riwayat hidup SH-II, biografi, seminar usulan, dan dokumen-dokumen pendukung.
Jika dibaca seluruh isinya tanpa—mengutip pernyataan Gubernur Kalbar bersifat “tendensius”, maka tidak akan tampak bahwa SH-II tidak patriotik kepada Indonesia. Jika dibaca dengan sabar seluruh lembar, maka justru sebaliknya terang benderang Hamid II Alkadrie itu patriotis sejati. Nasionalis tulen. Lihat pengakuan ahli sejarah Kalbar Drs H Soedarto bahwa Hamid selalu memikirkan rakyat (h-140), Uun Mahdar, SH yang meneliti aspek hukum hak cipta Lambang Negara Hamid itu federalis, tapi nasionalis (h-141), tokoh adat Dayak Baroamas Djabang Balunus Massuka Djanting bahwa Hamid itu orang baik, pandai bergaul.
Pengakuan senada Djanting dikemukakan wartawan senior Rosihan Anwar. Bahkan peneliti SH-II dalam KMB, Denny Amiruddin, SH tegas menyatakan, “Jangan kita dibutakan sejarah.” (H-148).
