Opini

Berlari Bersama BWI

Berlari Bersama BWI

Oleh: Nur Iskandar

Saya tak begitu kenal apa itu BWI. Saat dihubungi, saya tak peduli. Diminta isi form, kasih duplikat KTP serta kartu KK saya sergah. “Apa apaan ini minta dokumen segala? Saya tak kenal BWI. Mungkin salah orang!”

Si penghubung tak patah arang. Saya ditelepon dan kasih reason. Bukti rapat dibagikan. Ada nama saya di situ.
“Siapa yang rekomendasikan?” Disebut nama satu dua orang. Saya manggut-manggut. Namun saya masih curiga. Mungkin keliru. Bisa jadi yang dimaksud adalah kakak kandung saya, HM Nur Hasan. Beliau maestro sosial entrepreneur. Berpusat di mesjid. Wakaf adalah gebetannya bersama Munzalan Mubarakan.

“Saya dihubungi BWI. Jadi pengurus. Maksudnya ke Abang kali?” Abangku bilang, bukan. Ambil saja peluang ibadah itu. Abang adik sama saja. Begitu suaranya seraya senyum.