in

Berlari Bersama BWI

IMG 20201019 WA0037

Oleh: Nur Iskandar

Saya tak begitu kenal apa itu BWI. Saat dihubungi, saya tak peduli. Diminta isi form, kasih duplikat KTP serta kartu KK saya sergah. “Apa apaan ini minta dokumen segala? Saya tak kenal BWI. Mungkin salah orang!”

Si penghubung tak patah arang. Saya ditelepon dan kasih reason. Bukti rapat dibagikan. Ada nama saya di situ.
“Siapa yang rekomendasikan?” Disebut nama satu dua orang. Saya manggut-manggut. Namun saya masih curiga. Mungkin keliru. Bisa jadi yang dimaksud adalah kakak kandung saya, HM Nur Hasan. Beliau maestro sosial entrepreneur. Berpusat di mesjid. Wakaf adalah gebetannya bersama Munzalan Mubarakan.

“Saya dihubungi BWI. Jadi pengurus. Maksudnya ke Abang kali?” Abangku bilang, bukan. Ambil saja peluang ibadah itu. Abang adik sama saja. Begitu suaranya seraya senyum.

Saya sungguh tak kenal BWI, Badan Wakaf Indonesia, tapi segera saya pelajari. Buka Mbah Google. Dan masya Allah. Soal BWI ini soalan serius. Solusi peradaban. Tak lekang oleh waktu dan maut. Saya ingat pesan KH Lukmanul Hakim: orang cerdas pasti berwakaf. Lalu saya ingat semasa kecil ikut ayah sosialisasi UU Wakaf. Sosialisasi peran muwakif dan nazir. Lalu saya ingat ulama ahli hadits KH Wajidi Sayadi, M.Ag yang juga Ketua BWI Kalbar dua periode. Saya ingat wejangannya. Ingatan terbuka soal wakaf.

Baca Juga:  Menakar Kinerja Pemerintah Daerah, Efektif atau Muspro
IMG 20201019 WA0038

Sejak saya pelajari kembali BWI terkini, saya tak bisa tidur nyenyak memikirkan wakaf produktif di Kalbar yang jumlahnya mencapai 1 juta hektar. Berapa triliun aset itu? Setiap kali melihat mesjid, pondok pesantren, makam, selalu hati dan otak nyeletuk: wakaf.

Kini wakaf produktif menyentuh pasar, rumah sakit, rumah potong hewan sampai wakaf uang. BWI seperti hendak berlari menjadi solusi kebangsaan. Apalagi di tengah resesi ekonomi. BWI merupakan solusi.

Lewat artikel ini, saya membuka diri. Bagi yang hendak berwakaf yuk. Bagi yang mau belajar mengelola wakaf produktif ayuk. Jika ada kendala sertifikat tanah, dll, BWI jadi solusinya. Jangan segan kontak WA 08125710225. Mohon doa restu dan kebersamaannya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani berharap banyak atas kreasi BWI. Wapres Makruf Amin pun demikian. Sila klik tentang BWI. Kita pasti bisa kerjasama. *

Written by Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

IMG 20201019 WA0029

WHO STOLE THE INDONESIAN DREAM?

IMG 20201020 WA0002

Presentasi Zaman Bahulak