Pada umumnya para dosen menggunakan pendekatan ‘one-size-fits-all’ (Jenna Gillett-Swan, 2017) ketika mereka akan mengubah sajian tatap muka ke sajian dalam jaringan. Padahal, sudah ada aplikasi yang khusus untuk menyususn materi pembelajaran dalam jaringan. Karena itu, pelatihan bagi para dosen menjadi penting.
Departemen Pendidikan AS, 2010, menyebut sejumlah masalah utama yang harus dihadapi para dosen dalam pembelajaran dalam jaringan. Pertama, bagi sejumlah mahasiswa pembelajaran dalam jaringan yang merasa bosan. Belajar dalam jaringan berarti berhadapan dengan teks terus menerus. Sehingga, bagi sebagian mahasiswa membaca- dan-membaca sepanjang waktu tidak mudah dipertahankan. Akhirnya, bosan.
Masalah kedua, ada sejumlah mahasiswa lain yang memiliki kesulitan teknis. Tidak hanya dari ketersediaan sarana tetapi juga ditimpali oleh kekurungan-siapan sarana pada unit pendukung. Membuat mereka menjadi ‘stress’. Masalah ketiga, ada sejumlah mahasiswa lain terlena karena kebebasannya. Sehingga, tidak mengetahui bahwa pembelajarn sudah dimuali, misalnya.
Masalah keempat, ada juga mahasiswa yang ‘tidak memiliki waktu’ untuk belajar. Itu terjadi karena waktunya sangat fleksibel. Tergantung pada keputusan mahasiswa sendiri. Mereka dapat ‘sibuk’ melakukan kegiatan lain. Puncaknya, waktu untuk belajar tidak ada lagi.
Masalah lain juga sering dtemukan mahasiswa tidak tahan dalam kesendirian dan hanya ditemani perangkat elektronik. Mereka ingin berbicara dengan orang lain
