Oleh: Dr H Wajidi Sayadi, M.Ag

Sebagaimana biasa kajian rutin Ahad malam di Masjid Raya Mujahidin Pontianak dengan acuan Kitab Dalil al-Falihin Li Thuruq Riyadh ash-Shalihin karya Syekh Muhammad bin ‘Allan as-Shiddiqi, kali ini pembahasan Bab Keutamaan Zuhud.

Zuhud adalah tema populer di kalangan para ulama tasawwuf, sebab tasawwuf orientasinya lebih kepada bagaimana hati kita sebersih-bersihnya tidak boleh dikotori oleh penyakit dunia sehingga bisa sedekat-dekatnya dengan Allah.

Saya memberinya judul Bersikap Biasa-Biasa Saja dengan harapan pembahasan ini menyentuh semua level dan kalangan termasuk masyarakat awam dengan judul lebih populer dan mudah dipahami.

Para ulama mengartikan Zuhud adalah بغض الدنيا والاعراض عنها Mencela dunia dan membelakanginya. ترك راحة الدنيا طلبا لراحة الآخرة Meninggalkan kesenangan dunia untuk mencari kesenangan akhirat ان يخلو قلبك مما خلت منه يدك Mengosongkan hatimu dari apa yang harus diusahakan oleh tanganmu

Pengertian Zuhud seperti ini sama juga yang dikemukakan dalam kitab Hadaiq al-Haqaiq karya ar-Razi dan kitab ar-Risalah Qusyairiyah fi ‘Ilm at-Tashawwuf oleh al-Qusyairi an-Naisaburi.

Para ulama menjelaskan bahwa dari sekian pengertian yang ada, hakekat Zuhud sebenarnya ialah sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an: لكيلا تأسوا على ما فاتكم ولا تفرحوا بما ءاتاكم
Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang hilang dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. (QS. Al-Hadid, 57: 23).

Seseorang yang dianggap bersikap Zuhud ialah tidak merasa gembira dengan memperoleh keuntungan duniawi dan juga tidak merasa sedih karena kehilangan sesuatu. Yakni Bersikap biasa-biasa saja atau bersikap sederhana, tidak berlebihan, apalagi berlebih-lebihan.