“Aisyah… ayo nak buruan.” Aku memanggil putriku yang dari tadi tak keluar kamar. Waktu semakin bergerak meninggalkan angka tujuh, aku semakin gelisah.
“Bentar, Ma, masih nyari buku PR semalam, gak ketemu,” jawab Aisyah.
“Mama tunggu lima menit, adikmu sudah di mobil semua. Kalau kamu belum keluar kami tinggal.”
“Nak, kamu cari dulu cangkul, toh kamu belum pergi,” ucap emak gusar.
Aku bergeming, malas menanggapi emak.
“Nak, ingat dulu di mana kamu naruh cangkulnya.” Emak mendesak, raut wajahnya pun terlihat kesal.
Aisyah putriku berlari keluar rumah, ia segera masuk ke mobil.
“Aku dan anak-anak berangkat ya, Mak.” Aku mengambil punggung tangan emak dan menciumnya cepat.
Emak menarik lenganku, “cari dulu cangkulnya,” ucap emak.
“Entar sore ya, Mak. ” Aku tersenyum, berusaha sabar.
“Emak mau sekarang!” Emak membentak.
“Mak, aku ini sudah terlambat, hari ini ada rapat, kalau presentasiku gagal bisa gawat. Emak jangan buat masalah dong, untuk apa coba nanya cangkul sekarang? Wajar saja kalau istri Bang Ardi gak betah sama emak kalau rewel kayak gini.” Aku beranjak meninggalkan emak, masuk mobil dan membanting pintunya. Kesal.
Sekilas kulihat emak terdiam dengan netra yang berkaca.
