Segera aku ke halaman belakang rumah di mana banyak tanaman emak tumbuh subur. Emak sedang menggali sesuatu dengan pisau kecil ketika aku menghampirinya.
“Lagi apa, Mak?” tanyaku.
Emak menoleh dan tersenyum. “Gak ngantor?”
Aku menggeleng, “gak enak badan,” bohongku.
“Emak tadi mau minta cangkul buru-buru karena mau gali jahe merah ini. Semalam emak dengar kamu batuk gak berhenti jadi emak mau buat wedang jahe biar bisa kamu minum sebelum berangkat kerja makanya tadi emak buru-buru.” Emak masih menggali tanah dengan pisau kecil.
Aku bergeming.
“Mak gak berani pakai pisau dapur kamu, kan pisau mahal nanti rusak kalau kena tanah makanya tadi cari cangkul.”
Ah bodoh, apa ini, dadaku kian sesak.
“Untung ketemu pisau kecil ini, peninggalan bapakmu dulu, ini emak sudah dapat banyak jahenya.” Emak menunjukkan lima ruas jahe merah di telapak tangannya. Ia beranjak dan tersenyum. “Kamu istirahatlah, nanti wedang jahenya emak antar ke kamarmu. “
Ya Allah, ya Allah, berkali aku menyebut nama-Nya. Duhai hati alangkah mudah setan merasuki diri, betapa rapuh pertahanan diri, durahakalah aku yang telah melukai hati wanita baik ini.
Aku segera berlari dan memeluk tubuh kurus emak. “Maafkan aku, Mak, maafkan, Vina salah sudah membentak emak.”
