Fenomena melupakan kebaikan adalah gejala umum. Masalah etika adalah masalah semua. Di era ini orang bisa menjadi seperti orang baik, dan tiba-tiba menjadi seperti orang jahat dalam waktu sesaat. Seseorang bisa terlihat seperti pahlawan dan pesakitan dalam hitungan hari.
Celaka 19, teman bisa menjadi lawan, dan lawan bisa menjadi teman dalam masa yang singkat juga. Orang diajarkan untuk lihai berperan dalam pelbagai watak.
Lalu, memberi contoh lain. Akreditasi sebagai contoh. Beliau pernah jadi assesor dan menambah data tentang watak-watak dan peran itu tadi.
“Banyak tipu-tipu,” tambahnya.
Kali ini saya terbuai pada tema lain. Pilihan kata itu sangat menarik.
Kata”tipu-tipu” terasa menuil. Dahulu, saat pertama ke Kuala Lumpur, tahun 1996, saya sering jengah dengan kata ini. Merah muka saya.
“Hey, kau tipu ya?”
Tipu, dalam perbendaharaan kata saya, makna jelek sekali. Bohong luar biasa. Mengakali dengan curang. Kurrr semangatttt… tak mau saya.
Seiring perjalanan waktu dan pengalaman, lama-lama saya pun jadi biasa. Tak lagi jengah. Tak pula tersinggung. Saya memahami kata tipu dengan makna bohong ringan. Saya sudah bisa tertawa jika orang mengatakan “Kau tipu ya?”
Saya sudah rileks dan bisa menjawab,
“Ah, taklah”.
“Macam tau je”.
Saya kira mungkin situasi sekarang sudah seperti kejadian 20 tahun lalu itu.
