in

Journeypreneurship

Prolog

Tema ini saya nilai penting untuk dikupas karena semakin sempitnya lapangan kerja, terutama Pegawai Negeri Sipil. Pemerintah Jokowi menegaskan moratorium selama lima tahun. Ke hadapan mahasiswa-mahasiswi saya mengajak melihat peluang journeypreneurship. Oleh karena itu ketika panitia dari Kampoeng English Poernama dan Pusdiklat TOP Indonesia bertanya materi apa yang mau disampaikan untuk entrepreneur media, saya segera menyambutnya dengan satu kata yaitu: journeypreneurship.

Journeypreneurship Asal katanya dua, jurnalistik dan enterpreneurship. Jurnalistik adalah ilmu meliput dan memberikan laporan yang menarik. Entrepreneurship adalah kewirausahaan. Journeypreneurship adalah kewirausahaan yang menarik. Basisnya media. Bassicnya komunikasi. Jurnalis terbiasa mencari sesuatu yang baru, yang hangat, yang “laku dijual”. Jurnalis sudah terbiasa mengambil sudut pandang (angle) yang tajam.

Income dari Journeypreneurship

1. Rizki menulis
Menulis berita, opini, tajuk, cerpen, buku. Baik buku fiksi atau non fiksi. Menulis berita pada mulanya freelancer atau free income sebagai mahasiswa yang sedang latihan, karena mengelola media kampus, tapi lambat laun jadi “duit” karena ada posisi freelancer yang dibutuhkan media mainstream sehingga berbuah rupiah. Dari freelancer bisa organik sebagai reporter. Di medan laga lain ada pihak tertentu yang membutuhkan “ghost writer”.
Menulis opini/tajuk di media massa besar kerap berbayar. Anda bisa berhitung income jika muncul rutin di sejumlah media. Apalagi sudah pada level ulasan/pesanan. Contoh Emha Ainun Nadjib diminta mengulas budaya di Kompas atau Faisal Basri di bidang ekonomi. Menulis cerpen menjadikan Anda cerpenis. Idenya gratis, tulisannya dibayar lumayan. Contoh Seno Gumira Ajidarma. Putu Wijaya.
Menulis buku rizkinya lebih besar lagi…

2. Rizki mengolah kata
Contoh kaos kreatif berbahase Melayu Pontianak: Tecogok. Keruk. Lagak. Lihatlah keberhasilan bisnis kaos Dagadu atau C-59. Kalau habbit tulis menulis yang beken itu juga meningkatkan skill cuap-cuap Anda, nah bisa tambah income di programa radio. Kalau wajah “mberek” atau “ade potongan” alias cameraface, jadi host pula di TV. Akumulasi dari ke-3 hal tersebut di atas bertambah lagi profit centernya: stand-up comedy, ngem-C, moderator, komentator, narsum di kampus-kampus, lembaga-lembaga…kenyataan di atas sekaligus menegaskan bahwa media cetak dan media elektronik bersifat saling melengkapi.

3. Rizki wawancara dan networking
Wawancara sama artis berdampak nonton konser gratis, dapat tanda tangan dan foto bareng lagi…
Kebiasaan wawancara terhadap narasumber yang sulit “ditembus” membawa kerjasama riset seperti investigative reporting, pemetaan sosial politik dan ekonomi, polling, jajak pendapat, sigi, dst…

4. Rizki investigasi
Melalui jurnalistik di mana teknik investigasi sudah terasah di bangku perguruan tinggi, maka setelah menjadi sarjana bisa mengisi lowongan kerja sebagai investigator di BPK, BPKP, polisi, BIN …

5. Wawasan dan pengalaman
Karena pernah meliput pertanian, peternakan, perikanan, perumahan terhadap tokoh-tokoh sukses, maka si jurnalis bisa tergugah “main” di tempat yang sama.

6. Menangkan lomba, nikmati hadiahnya
Setiap saat ada saja lembaga yang menghelat lomba berbasis jurnalistik seperti fiksi, non fiksi, fotografi, vidio klip atau film dokumenter, dll.

7. Raih beasiswa, nikmati perjalanannya
Hal yang sama dibuka untuk beasiswa berbasis jurnalistik. Reguk new adventure dan buat laporan perjalanannya.

8. Rizki popularitas
Become instructure. Popularitas yang tinggi memuluskan langkah jurnalis menjadi legislator. Contoh Meutia Hafidz dari Metro TV. Ramadhan Pohan dari Jawa Pos.

Epilog
Berkaryalah sampai akhir usia. Mahasiswa bisa menjadi pelopor sejak dini. Student now-leader tomorrow. Jurnalisme menjadi tools atau alat untuk menggapai puncak kesuksesan tersebut.
Teruslah buka peluang. Be creative. Journeypreneurship adalah kunci sukses simultan yang menggabungkan 3 dimensi pendidikan, yakni afektif, kognitif dan psikomotorik.
Benefit intelektual, sosial, finansial hingga spiritual akan Anda rayakan sendiri kegembiraannya. Rasakan sendiri kenikmatannya.
Jika dihitung hitung bisa tak terhitung profit dan benefitnya. (* Penulis adalah Direktur Pusdiklat TOP Indonesia, lembaga pelatihan jurnalistik dan penerbitan buku beralamat di Purnama Agung 7, Blok Y37-40 Pontianak)

Tambahan

Simulasi Income The Beginner’s
Opini 1 minggu 1x dimuat media @ Rp 100.000 = Rp 400.000
Resensi buku/film/teater sda = 400.000
Per bulan = Rp 800.000
Secara konsisten dalam 1th = 800x12bl
Rp 9,6 jt

Buat buku kampus, cth kupasan soal mid semester dan ujian akhir
1 buku dijual Rp 50.000 x 300 eks = 15 juta (50% biaya produksi)
7,5 juta income!

Written by Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

Nikam! Agus Ditangkap Polsek Timur

27 Pemuda Kalbar Ikuti Diklat Journeypreneurship