Para guru dan dosen kiranya akan lebih kaya jika melengkapi diri dengan ‘Quantum Teaching’ dari pengarang yang sama. Selain memahami bagaimana cara belajar membaca dan membuat catatan siswa (lewat Quatum Teaching), juga memperoleh panduan bagaimana cara merancang sajian dalam teks yang sesuai dengan kebutuhan pembaca (lewat Quantum Teaching).

Khusus bagi siswa dan mahasiswa, kesulitan membaca juga timbul dari kebiasaan ‘ber-HP ria’. Sajian yang tersedia dalam HP pada umumnya ‘ringan’ dan ‘pendek’. Sementara, sajian teks pembelajaran dalam jaringan lebih berat dan lebih panjang. Namun, juga tidak perlu mengeluh, usaha menyesuaikan diri lebih baik. Agak sulit di awal tetapi di belakang hari, kelak, akan menjadi mudah.

Kesulitan kedua berasal dari alat yang digunakan. Sajian dalam HP jauh lebih kecil dari sajian dalam buku apa lagi papan tulis atau sajian pada layar proyeksi. Tentu terasa berat untuk membaca teks terus-menerus, ber-jam-jam sesuai dengan lama waktu sekolah.

Bagi yang di rumah tersedia perangkat komputer atau laptop, sajian lewat HP sebaiknya dipindahkan ke perangkat itu. USB pada kabel pengisi baterai, Charger, yang biasa dihubungkan ke PLN dipindah dihubungkan ke USB CPU atau USB Laptop.

Khusus kesulitan dalam memahami isi bacaan (reading comprehension) tidak mudah diselesaikan. Ini, perlu usaha yang lebih keras.

Survai PISA 2018 menemukan bahwa kemampuan memahami bacaan siswa Indonesia pada urutan ke-72 dari 78 negara peserta (Skor 371). Rerata skor kemampuan membaca, standar PISA, sebesar 500. Dua pertiganya berada di antara 400 dan 600. Dengan skor rerata 371 berarti kemampuan membaca mereka sangat rendah.