Opini

Ketika Sekarung Ubi cuma Rp20 Ribu

Ketika Sekarung Ubi cuma Rp20 Ribu

Oleh: Yusriadi

“Bapak pilih sendiri,” Bu Rini, petani di Jangkang memberikan karung beras ukuran 10 kg. Dia mempersilakan saya memilih sendiri ubi jalar kuning.

Sebelumnya, saya memang sudah menyampaikan minat membeli ubi jalar yang ditumpuk di bawah rimbunan pohon durian di seberang rumah beliau.

“Minta bagi harga Rp20 ribu,”
“Bisa,” katanya sambil mengambil karung di rumahnya. Dan karung itu diberikan kepada saya, lengkap dengan perintah, pilih sendiri.

Perintah ini membuat saya terkejut, sekaligus bingung.

Berapa banyak yang harus saya pilih?

Takjelas. Bu Rini tidak memberitahukan harga per kilo. Saya juga belum bertanya. Daripada tak jelas, lebih baik urusan takaran ini diserahkan ke beliau.

“Ibu jak yang pilih,” saya mengelak.

“Kalau bapak yang pilih, bisa pilih yang bagus-bagus,”

Saya masih mencoba mengelak.

“Sama, kalau ibu yang pilih. Saya ikut saja”.

“Tekena’ yang jelek?”

“Nasiblah”. Saya tertawa. Beliau ikut tertawa.

Akhirnya Bu Rini yang memilih. Saya membantunya.

Sambil memilih beliau cerita harga ubi jalar atau dia sebut telo, cuma Rp4.000. Yang ditumpuk dan kami pilih adalah sisa pilihan yang tidak dibeli pengumpul. Jika pun dibeli ubi yang kecil ini harganya Rp2.000. Telo ditumpuk di pinggir jalan, diecer.