in ,

Memadamkan Bara Hoax dengan Air Kebahagiaan

teraju.id, Pontianak— Saya yakin, Mark Zuckerberg, orang terkaya ke-5 di dunia ini tidak pernah membayangkan bahwa Facebook bisa menjadi sumber hoax, pemicu konflik dan alat propaganda yang ampuh. Statistik pengguna Facebook di Indonesia yang mencapai 90 juta (2016), jauh meninggalkan pesaing, makin menguatkan kedigjayaannya.

Di tanah air, alih-alih menjadi situs pertemanan, Facebook kerap menjadi perusak jalinan persahabatan.

Beda pilihan politik, bertengkar. Beda pilihan gubernur, berseteru. Bahkan untuk hal-hal yang membahagiakan pun bisa tumbuh konflik. Contoh kekinian, ada seorang pengantin yang tidak terima diberi kado pernikahan lalu menjual murah di sosial media. Sang pemberi hadiah merasa terhina. Tak terima, lalu posting balasan. Maka virallah kegaduhan tersebut.

Kehadiran Facebook tak pelak menjadi pemicu panasnya dunia online. Kalo di dunia nyata, bila terjadi perselisihan mungkin hanya 1-2 orang yang tahu—dan akan berakhir singkat. Tapi bila di dunia maya, tak jarang konflik malah melebar dan berlarut-larut. Ditunjang viral dan laporan ke polisi. Konflik kian panas. Tak berujung tuntas.

***

Kita harus sadar, berita hoax mudah menular dan menjalar. Sedangkan, berita baik sulit tersebar dan melebar. Apalagi di tengah masyarakat yang mengagungkan bad news is good news. Senang bila melihat orang lain susah. Susah saat melihat orang lain senang.

Pada hulu tahun ini, saya beberapa kali hadir dalam acara yang mengangkat isu jurnalistik dan sosial media. Entah menjadi peserta atau kadang menjadi pembicara. Nah, beberapa waktu lalu, saat menjadi pemateri di Journeypreneurship teraju.id, tak lupa saya menyelipkan analogi gelas kopi ini.

Begini…

Saya bertanya kepada peserta, bila ada segelas kopi dalam gelas, bagaimana caranya agar kopi itu berkurang atau menghilang tanpa menumpahkannya?

Jawaban peserta bisa macam-macam. Ada yang bilang meminumnya. Ada yang berusaha membuat kopi ini menjadi campuran kue. Ada yang diam, tak menjawab.

Tak tega melihat peserta berlama-lama dalam kebingungan. Saya menjawab…

Bila kopi itu kita ibaratkan ujaran kebencian, hoax, pornografi, scam, dll, maka posisi terbaik kita ialah menuangkan sebanyak mungkin air putih ke dalamnya. Berlomba dengan penuang kopi, hingga air kopi tumpah dan air putih memenuhi gelas tersebut lalu menjadi pemenangnya.

Mengapa kita tidak langsung menumpahkan kopi atau mencegah si penuang kopi? Harus diakui, peran itu ada pada kepolisian lewat divisi Cyber Crime-nya. Kita tidak mempunyai otoritas untuk mengambil posisi tersebut. Posisi kita apple to apple dengan penuang kopi: penuang air putih.

Nah, sebagai penuang air putih itulah saya menghimbau pada peserta untuk menggelontorkannya dengan tulisan-tulisan bermutu, status-status positif dan foto-foto terbaik di sosial media.

Tuang status dan tulisan tersebut sebanyak-banyaknya. Sesering-seringnya. Hingga penuang kopi lelah dan kalah.

Bayangkan, bila semua kondisi ideal itu tercapai, wajah beranda sosial media kita tidak lagi penuh air mata, degup permusuhan dan ujaran kebencian.

Dan, saat Facebook bertanya kepada kita, “apa yang anda pikirkan?” Maka, kita menjawab dengan bahagia, “mau tau aja atau mau tau banget?”

Written by Yaser Ace

propertipreneur | digitalpreneur | kulinerian

Aktif adalah Modal Awal Seorang Jurnalis

Ai Xin Menolong Tanpa Sekat SARA