Sekelompok pemikir pendidikan, mengembangkan model pembelajaran yang ‘mirip’, dengan mengadopsi para pemikir konstruktivisme. Saya menyebutnya sebagai tradisi pembelajaran konstruktivisme. Saya mulai mengenalkannya sejak tahun 1990 di Indonesia, sebagai implementasi dari disertasi saya di Universitas Monash, yang secara khusus difokuskan pada tes diagnosnitik hasil belajar yang diikuti dengan remediasinya.
Dalam tradisi pembelajaran konstrukivisme, kurikulum disusun ‘dari bawah ke atas’. Para perancang kurikulum mengawali tugasnya dengan mengumpulkan pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan para siswa dan juga masyarakat sekarang dan masa mendatang. Kemudian, materi pembelajaran didasarkan temuan-temuan itu.
Pembelajarannya juga diubah tidak ‘seperti mengisi botol kososng’, tetapi berupa membantu siswa mengkonstruksi pengetahuannya. Selain itu, siswa dipandang telah memiliki pengetahuan awal tentang pengetahuan yang sedang dipelajari.
Proses pembelajarannya, dimulai dengan menggali pengetahuan yang telah dimiliki para siswa. Kemudian diikuti dengan pengetahuan yang diturunkan dari para ilmuwan seperti yang dijelaskan dalam buku sumber. Tahap ketiga mengajak siswa membandingkan antara pengetahuan mereka dengan pengetahuan yang telah disusun para ilmuwan. Para siswa diajak menetapkan pengetahuan yang argumentasinya baik dan lengkap. Pengetahuan yang seperti itu yang disepakati sebagai pengetahuan bersama dan yang dianggap betul. Model pembelajaran seperti ini mendorong para guru melakukan refleksi serta menggunakan ketrampilan berpikir tingkat tinggi seperti yang diinginkan Menteri Nadiem.
