Home > Opini > Mutu Warga dan Aktivitas Negara

Mutu Warga dan Aktivitas Negara

Oleh: Willy Pramudya*

Pria Perkasa yg Dibayangkan
*Kalau mau berubah, negara harus memulai

Saya ingin memulai tulisan ini dengan menceritakan pengalaman pribadi. Baru saja saya melakukan kegiatan sekaligus kerja ganda atau malah ganda-berganda di rumah. Itu mencakup hal2 yang berkaitan dg urusan domestik sekaligus publik dalam satuan waktu yang nyaris serentak. Secara simultan saya bisa mencuci pakaian, piring, bikin nasi goreng, mengawasi anak belajar, memandikan, hingga menyiapkan makan malam.

Pada saat yang sama, saya tetap menjalin komunikasi dengan relasi untuk urusan pekerjaan maupun sosial. Juga melanjutkan kerja yang sudah ada sklgs menyiapkan bahan untuk kerja mendatang sambil nonton acara TV kesukaan dan menyunting naskah puisi yg mulai memerlukan pendalaman.

Sebenarnya fisik saya mulai mudah capek. Nyeri otot di punggung dan dada sering menyerang. Saya perlu berhemat dan banyak istirahat.

Saat beristirahat itulah saya sempat berpikir. Bahwa jika pola kegiatan dan kerja seperti ini semakin banyak dilakukan oleh warga, maka negara dan masyarakat bisa memanfaatkan untuk membangun sebuah masy yang maju, masy yang solider dan sadar untuk selalu menghormati sesama dan lingkungan hidupnya.

Bagi saya masyarakat yang maju bukan hanya masy yg menguasai ilmu dan teknologi. Masy yg maju adlh masyarakat yang tahu hak dan kewajiban sebagai warga negara dan warga masy. Masy yg maju sangat menghormati sesama manusia dan hak2nya, juga menghormati kebudayaan dan alam.

Dengan bekerja dan berkegiatan di rumah, mutu dan kedalaman relasi antaranggota kelg dan anggota masy bisa diperkuat. Pun hemat dalam banyak hal karena banyak yg tidak harus didapat dengan membeli atau menyewa. Kepadatan lalu lintas juga akan berkurang. Juga ada waktu untuk meningkatkan mutu berbagai bidang kehidupan sejak dari rumah.

Dengan lebih banyak warga tinggal di rumah sekaligus punya kesempatan belajar mengubah pola relasi dan pembagian peran, kesetaraan dan keadilan gender atau minimal kepekaan j
Gender juga akan berubah lebih baik. Demikian pula hal-hal yang terkait urusan hidup bersama yang lebih besar dapat dipikirkan dan dilakukan sejak di rumah. Pembangunan basis2 demokrasi, solidaritas sosial, keguyuban, kreativitas hingga pentingnya merawat hidup bersama sebagai makhluk sosial, warga bangsa dan warga negara.

Ada banyak manfaat bahkan keuntungan untuk banyak pihak baik secara material maupun imaterial. Bagi saya selain terpikir banyak hal di atas, juga membuktikan bahwa perempuan dan laki2 sama2 bisa menjadi manusia perkasa.

Selama ini terjadi bias karena lelaki sering dipandang sebagai makhluk perkasa meskipun tak mau atau tak msmpu melakukan tugas domestik. Juga ada pandangan perempuan yang bisa mengerjakan tugas dan peran ganda adalah perempuan perkasa.

Saya beberapa kali membuktikan bahwa dengan bekerja di rumah dan membangun model kerja yang adil dan maju di rumah, perempuan dan lelaki sama-sama bisa tumbuh sbg manusia perkasa, baik tubuh, pikiran dan jiwanya. Ini modal besar untuk membangun negara yang sudah lama pingsan dan jarang hadir di masy sementara masy kecil semakin terpinggir dan mudah dibohongi.(*Dewan Etik AJI)

Berbagi itu indah:

Tulis Komentar

comments

About teraju.id

Check Also

Yudi Latif Badan Pengarah Ideologi Pancasila

Yudi Latif, sang “Pancasila Berjalan” sodorkan PERMA

Pukul 8 pagi lewat sedikit, 10/12, saya tiba di Rumah Melayu. Melompong. Lengang tepatnya. Tentu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

teraju.id