Opini

Pasinaon: ‘durung Jawa’

Pasinaon: ‘durung Jawa’

Dalam wayang, tidak ada satu pun karakternya yang disalahkan mutlak atau dibenarkan mutlak.Ambil sebagai contoh, tokoh Adipati Karno. Ia adalah abang sulung dari para Pandawa (satu ibu). Tetapi, ketika terjadi perang Barata Yuda, Karno memilih menjadi panglima perang kerajaan Hastina. Akibatnya, ia harus berperang (hidup-mati) melawan adik-adiknya (Pandawa). Walaupun begitu, masyarakat tidak menganggap Karno salah. Karena, menurut penjelasan Karno, ia memilih melawan adik-adiknya untuk menjaga agar Pandawa tetap berlima, entah dia yang mati atau entah salah satu adiknya yang mati dsb.

Dalam hidup nyata, sehari-hari, juga begitu. Masyarakat jawa tidak memenyebut suatu tindakan seseorang pada ‘benar’ atau ‘salah’, tetepai dalam istilah ‘durung bênêr’ dan ‘wis bênêr’. Artinya, ada ruang untuk pendangan yang lain. Tidakan yang ‘durung bênêr’ karena yang bersangkutan ‘durung Jawa”. Sebaliknya, tindakan ‘wis bener’ berarti yang bersangkuta ‘wis dadi wong (Jawa).

Mangga ka-oncekana
16-2-2019, Pakem Tegal, Yogya
Nuwun