Dengan konteks semacam ini, pandangan orang Jawa terhadap sikap dan tindakan seseorang tidak ditempatkan dalam ‘benar’ atau ‘salah’. Tetapi, digunakan istilah ‘durung Jâwâ’ atau ‘durung ngerti’ dan ‘wis dadi wong (Jawa)’ atau ‘wis ngerti’. Mereka yang ‘sudah mengerti’, yang ‘sudah menjadi orang (Jawa)’ berkewajiban memberi tahu orang-orang yang belum Jawa supaya menjadi Jawa.
Bagi mereka yang bukan berdarah Jawa tetapi bersikap dan bertindak tepat sesuai dengan tempatnya (menurut ukuran adat Jawa) disebut ‘njawani’. Artinya, telah berbuat seperti orang Jawa. Sebaliknya, bagi orang Jawa yang sampai usia lanjut seperti saya ini (pen.) yang bertindak tidak sesuai dengah tata krama dan sopan santun Jawa disebut ‘dudu Jâwâ’ – bukan Jawa.
Cara pandang seperti ini, ‘durung – wis’, ‘belum – sudah’, menunjukkan bahwa etika Jawa itu bersifat relatif. (tidak mengenal benar – salah). Tidak mengenal ‘kemutlakan’. Etika relatif orang Jawa ini dalam hidup nyata itu dipelajari dari ‘etika wayang’.
