Opini

Praktisi Pers Perempuan Yang Terlupakan

Praktisi Pers Perempuan Yang Terlupakan

Dia tetap aktif dalam organisasi perempuan dan menulis.

Danilah menjadi anggota Pengurus Besar Isteri Indonesia dan ketua cabang Kwitang.

Danilah menikah lagi dengan wartawan Cahaya Timur Syamsudin Sutan Makmur di masa pendudukan Jepang. Setelah Jepang hengkang, mereka mendirikan Mingguan Daya Upaya namun tak bertahan lama.

Syamsudin bersama Njoto dan rekannya mendirikan Harian Rakyat.

Di suratkabar ini, Danilah mengisi rubrik Pojok dengan nama samaran Bang Golok.

Nama Bang Golok dia pilih karena menggambarkan ketajaman senjata rakyat Indonesia.

Dalam salah satu karangannya, Danilah menulis bahwa rakyat harus bersatu-padu agar Indonesia tidak dijajah kembali oleh Belanda.

“Radio milik Belanda, Pemancar Radio Hilversum menuduh Bang Golok sebagai penghasut kelas satu agar Indonesia berontak melawan Belanda,” katanya.

Ketika Isteri Indonesia hendak membuat terbitan, Danilah dipercaya menduduki ketua komisi pers lantaran sepak-terjangnya di dunia literasi dan jurnalistik.

Lasmidjah Hardi dalam Perjalanan Tiga Zaman menyebut Danilah sebagai wartawan terkenal di zamannya.
Danilah juga aktif menulis di Majalah Isteri Indonesia.

“Kakak saya Siti Salamah menjadi pemimpin umum Majalah Isteri Indonesia,” kata Danilah.

Menurutnya, menulis tidak bisa dilepaskan dari cara pandang yang berpihak pada perempuan. Kala Sukarno menikah dengan Fatmawati, misalnya, Danilah mengkritik keras Sukarno dan menyayangkan Sukarno menduakan Inggit.