Opini

Praktisi Pers Perempuan Yang Terlupakan

Praktisi Pers Perempuan Yang Terlupakan

* Catatan Literasi Din Osman

JAGAT literasi dan jurnalistik tanah air telah lama melahirkan nama-nama hebat.

Namun, tak semua populer.

Siti Danilah Salim, misalnya. Meski sama-sama aktif menulis dan berjuang, namanya tak setenar kakak kandungnya, Agus Salim.

Danilah adalah anak ke-10 dari 12 bersaudara.

Pendidikan dasarnya dilakukan di Europesche Lagere School Riau. Dari sana dia lalu melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (setingkat SMP) di Medan. Setelah menyelesaikannya, umur 17 tahun dia bekerja di Kantor Pos dan Bea Cukai.

Danilah menikah tahun 1920 dengan seorang pegawai tambang minyak.

Dia lalu mengikuti suaminya ke Kalimantan dan Semarang.

Kecintaan Danilah pada dunia literasi bermula ketika dia bekerja sebagai juru koreksi di Percetakan De Evolutie, perusahaan pribumi yang mendapat subsidi pemerintah kolonial.

Kala itu usianya baru 20 tahun. Satu per satu naskah dia teliti, setiap peletakan tanda baca yang salah dia koreksi.
Tak satu pun naksah buku yang hendak diterbitkan De Evolutie luput dari pemeriksaannya.

Danilah sangat menikmati pekerjaan itu.

“Dari pengalaman bekerja sebagai korektrise dan belajar otodidak di De Evolutie itulah minat saya untuk mengarang mulai tumbuh,” kata Danilah dalam kumpulan memoar perempuan Sumbangsihku Bagi Pertiwi.