Opini

Putera Ngabang Turut Mewarnai Permulaan Jagat Sastra Indonesia Modern

Putera Ngabang Turut Mewarnai Permulaan Jagat Sastra Indonesia Modern

Penerbitan (dan kelahiran sebuah angkatan dalam kesusastraan modern Indonesia) Pujangga Baru adalah realisasi dari hasrat untuk menyatukan tenaga cerai berai pengarang Indonesia yang sebelumnya telah kelihatan hasilnya dalam berbagai majalah. Dalam perjalanan sejarah puisi modern Indonesia, sajak-sajak corak baru mulai tampak kuartal terakhir tahun 1931. Majalah Panji Pustaka tahun IX nomor 81 terbitan 9 Oktober 1931 halaman pertama memuat sajak JAS Affandi “Borneo Kusayang”. Maka orang pun mendapat semacam kejutan membaca sajak karya JAS Affandi ini. Sajak itu telah mewarnai halaman puisi Panji Pustaka adalah sajak semodel yang diperkenalkan oleh Muhammad Yamin, terutama soneta dalam bahasa Melayu. JAS Affandi sebagai seorang penyair kemudian akan terkenal sebagai pembantu Pujangga Baru sebagaimana juga OR Mandank, Yogi, AM Dg Mijala dan lain-lain.

Bersama JAS Affandi, dikenal pula Gusti Sulung (GS) Lelanang (dituliskan Lalanang). Salah satu sajaknya, Bunga Jelita, dimuat Pujang Baru tahun III edisi nomor 3 terbitan September 1935.
Kutipan sajak “Bunga Jelita” karya GS Lalanang (Gusti Sulung Lelanang):

Cenderawasih burung dewata
Hinggap sebentar di ranting dahan
Paras elok sebagai didandan
Molek penaka bunga jelita

Bulu badan merah berkilau
Himbuhan sayap kuning permai
Panjang lelak indah tersurai
Kepala berbulu warna hijau

Kepak dibabar terbang mengawan
Hilang lenyap di hati terpaku
Sukma bernyanyi mendayu-dayu