Hingga detik ini, saya tetap percaya pada para statistisi muda di BPS (Badan Pusat Statistik).
Saya sendiri sudah tiga kali menjadi narasumber acara literasi di STIS, sekolah tinggi kedinasan yang secara khusus melahirkan para ahli statistik muda. Bahkan, saat saya kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI), saya pernah menjadi asisten laboratorium Statistik untuk membantu mahasiswa tahun pertama.
Saya menyukai statistik. Saking sukanya, hingga kini saya masih rajin membuka data-data statistik. Boleh jadi, saya lebih rajin memelototi angka-angka dibanding influencer yang sibuk dengan konten “fufufafa”. Saya pelajari data terbaru, saya telusuri tren dan angka-angkanya.
Jika kalian membuka website resmi BPS, kalian akan menemukan pengumuman tentang penyesuaian jadwal rilis data. Apa artinya? Biasa saja. Itu hal lumrah. Lembaga seperti BPS memang membutuhkan waktu tambahan untuk mengolah data secara lebih hati-hati dan akurat. Apalagi, ini adalah rilis resmi dengan jadwal baru.
Saya percaya pada para statistisi muda Indonesia. Mereka datang dari berbagai penjuru tanah air. Mereka adalah hasil seleksi ketat, terbaik dari yang terbaik. Mereka kuliah dengan serius, lulus, dan kemudian ditugaskan kembali ke seluruh pelosok negeri. Setiap hari mereka berjibaku dengan angka dan data: menghitung pertumbuhan ekonomi, angka pengangguran, tingkat kemiskinan, dan indikator lainnya.
