Memang.
Ampun, deh. Saya itu sejak tahun 2004 sudah menulis soal fakta ini: SDM Indonesia rendah. Dan itulah kenapa saya memilih “jalan ninja” menjadi penulis.
Saya dulu mengajar. Saya tidak peduli jika gajinya hanya secuil. Saya suka mengajar saja. Tapi, berapa murid di kelas? 20–40 orang. Saya berpikir, wah, ini sih nggak banyak efeknya. Bagaimana agar efeknya lebih besar, agar multiplier-nya terasa? Menulis.
Lewat buku, pembacanya bisa jutaan. “Murid” saya bisa banyak. Pun saya menulis di koran-koran, di media sosial, dan lain sebagainya.
Saya tahu, SDM Indonesia itu rendah. Maka saya menulis.
Soal PISA, misalnya. Silakan gali postingan lama, pasti bisa menemukan 30–50 tulisan saya soal ini. Tentang dulu orang Malaysia kuliah di sini, eh sekarang terbalik. Kualitas pendidikan Indonesia terus menurun. Dan, pada akhirnya, produk akhirnya—tenaga kerja—ikut rendah.
Saya tahu. Banyak juga yang tahu. Ini tuh rahasia umum. Sama-sama tahu.
Maka, sangat epic ketika tiba-tiba ada pejabat yang ngoceh:
“SDM Indonesia rendah!”
Astagfirullah. Lah, nggak kamu omong pun, orang juga sudah tahu! Tapi kamu itu pejabatnya! Kamulah yang seharusnya mencari solusi. Bukan cuma sibuk menyalahkan rakyat!
Dan apakah selama 25 tahun terakhir, sejak reformasi, kalian—para pejabat—benar-benar mencari solusi? Tidak!
- Kalian sibuk bongkar pasang kurikulum. Dasar ambyar! Tiap ganti menteri, ganti kurikulum. Ganti buku teks.
- Kalian sibuk dengan proyek-proyek, seperti Kartu Prakerja. Rp68 triliun habis. 20 juta penerimanya. Mana hasilnya? Katanya sukses besar, kok SDM nggak naik-naik?
- Sekolah Rakyat! Ini epic sekali. Rp2,3 triliun untuk mengurus 9.700 murid doang. Padahal kalau dikasihkan ke ponpes atau sekolah-sekolah yang sudah ada, 10%-nya saja cukup untuk 9.700 murid. Pendidikan di negeri ini cuma ladang proyek saja buat kalian.
- Sementara UKT dan SPP kuliah makin meroket. Bisa masuk ratusan juta. Anggaran habis untuk sekolah-sekolah kedinasan.
- Dan seterusnya… panjang daftarnya.
Kalau rakyat mau saling menyalahkan, bilang SDM Indonesia rendah—silakan. Namanya juga rakyat. Tapi kamu itu pejabat. Mulutmu ditahan dikit. Kamu bagian dari masalahnya. Sadar tidak?
(Tere Liye)
