Catatan di sini perlu dikemukakan bahwa Badan Konfederasi Federal atau BFO bukanlah boneka buatan Belanda, sebab ide dasarnya berangkat dari kerajaan yang berdiri otonom sebagai negara berdiri sendiri. Bahwa tidak seluruh Nusantara adalah jajahan Belanda. Kalbar sebagai bukti nyata. Di mana Kesultanan Qadriyah sejak berdiri 1771 tidak pernah dijajah Belanda.
Bukti otentiknya adalah ditanda-tanganinya perjanjian kerjasama bilateral antara kedua negara, 1774. Yakni antara Belanda dengan Sultan Syarif Abdurahman Alkadrie. Bahkan kelak di era Sultan Muhammad (Sultan Ke-6 Qadriyah) dilakukan muhibah besar-besaran ke Kerajaan Belanda. Dan sejak saat Sultan Muhammad itulah putranya, Sultan Hamid akrab bersama Ratu Wilhelmina dan putrinya Ratu Juliana. Ia juga akrab dengan Pangeran Belanda. Kelak karena kedekatan ini Sultan Hamid dengan nasionalisme keindonesiaannya berpihak kepada Negara Proklamasi sehingga Konferensi Meja Bundar sukses besar dengan pengakuan kedaulatan Belanda atas kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Aspek sosiologis-historis ini tidak pernah diajarkan kepada siswa-siswi Indonesia melalui mata pelajaran sejarah. Sehingga tentang Sultan Hamid negarawan kurang dikenal secara sosiologis dan historis Kesultanan Qadriyah Pontianak.

