Hanya karena faktor keamanan, ketika Indonesia merdeka belum stabil, ada agresi militer Belanda pasca proklamasi, maka mereka menjadi korban situasi. Sultan Hamid mengamankan anak dan istrinya ke Belanda untuk menyelamatkan nyawa belahan jiwanya. Sebab Sultan Hamid pun “dipersekusi” sehingga kali pertama Hamid kehilangan satu mahkota, yakni istri tercintanya bergelar Ratu Mas Mahkota. Dan Ratu Mas Mahkota ini sangat sedih jika mendengar suaminya disebut pengkhianat negara Indonesia karena dia tahu betul bagaimana perjuangan dan cintanya Hamid kepada Indonesia. Hamid rela mati untuk Indonesia, bahkan dia dimakamkan di Batulayang tanah kelahirannya, bukan di Belanda. Begitupula Ratu Mas Mahkota setia kepada Hamid sampai akhir hayatnya tahun 2010.

Jelas Hamid sangat nasionalis dengan segenap jasa-jasanya. Dia berperang melawan penjajah Jepang dan ditahan Dai Nippon di penjara. Hamid baru bebas ketika Jepang dibom atom oleh sekutu, 1945.

Hamid sekeluar penjara menemukan bahwa keluarga besarnya di Kesultanan Qadriyah telah dibantai secara sadis dan kejam oleh Dai Nippon Jepang. Jenazah ayahnya, Sultan Muhammad, sosok yang banyak membawa kemajuan atas Pontianak dan Kalimantan Barat dalam hal perdagangan dan tata kota, baru ditemukan akhir tahun 1945 atau awal tahun 1946. Pembantaian Jepang secara sistematis di Pontianak dengan bom sembilan terjadi di hari Jumat tahun 1941. Pembantaian tokoh Kalbar termasuk Kesultanan Qadriyah sejak 1942-1944.