Opini

Tantangan Berat di balik Indonesia sebagai Destinasi Pariwisata Terbaik Dunia

Tantangan Berat di balik Indonesia sebagai Destinasi Pariwisata Terbaik Dunia

Destinasi wisata unggulan kita bahkan masih terlampau jauh dibanding beberapa kota di ASEAN. Kunjungan wisman kita masih kalah dibanding beberapa kota di Malaysia seperti Penang (7,7 juta) dan Melaka (5,68 juta).

Bagaimana dengan destinasi “besar” Indonesia?

Kunjungan wisman ke Jakarta pada tahun 2018 sebesar 2,8 juta wisman dan Batam/Kepulauan Riau sebesar 2,6 juta.

Sementara beberapa destinasi lainnya di Indonesia sangat jauh tertinggal dengan destinasi di ASEAN yang lain seperti Surabaya/Jawa Timur (320 ribu), dan Kualanamu/Medan (230 ribu).

Bandingkan dengan kota-kota “kecil” di Vietnam macam Ho Chi Minh (7,5 juta), Hanoi (5,5 juta), dan Quang Ninh (5,3 juta). Jauh sekali kita tertinggal.

Selain itu, apabila dilihat dari angka devisa pariwisata pada 2018, Indonesia juga masih tertinggal dibandingkan negara tetangga. Thailand berhasil meraup devisa pariwisata sebesar USD 70 miliar. Singapura, Vietnam, dan Malaysia masing-masing berhasil mencetak devisa sebesar USD 27,1 miliar; USD 26,75 miliar; dan USD 20,07 miliar.

Perolehan devisa Indonesia berada di angka USD 19,3 miliar.

Sebagaimana target utama dari Kemenparekraf yaitu meningkatkan quality of tourism Indonesia, maka perolehan devisa pariwisata juga harus ditingkatkan dengan strategi jitu yang efektif dan efisien. Kita harus mengejar ketertinggalan dengan memanfaatkan potensi besar yang kita miliki.

Inilah tantangan besar pariwisata Indonesia sesungguhnya.