Pak Syam bersedia jika diajak ke mana pun untuk menjadi saksi. Hal senada diungkapkan saksi sejarah yang kini masih segar-bugar walau fisiknya tak dapat dibohongi sudah keriput–Baroamas Djabang Balunus Massuka Djanting. Pak Djanting diundang SH ke Hotel Des Indes. Pertemuan membahas usul dan saran apakah gerangan yang laik menjadi simbol negara?

Sebagai tokoh adat Dayak yang “cerdas” Massuka Djanting terus terang mengusulkan burung Enggang. Kemudian Panembahan Sintang Moehammad Ade Djohan mengusulkan Burung Ruai. (Di Kota Pontianak sekarang eksis Ruai TV 🙂 Mungkin perlu juga ada Enggang TV wk wk wk

Pak Massuka ingatannya luar biasa clear. Kami punya banyak rekaman testimoninya. Termasuk guru besar seperti Prof Dr Syarif Ibrahim Alqadrie, Prof H Slamet Rahardjo, SH, Dr Hermansyah, Jumadi, S.Sos, M.Si, Drs H Soedarto, budayawan H Abdul Halim Ramli, Sultan, bahkan putra Sultan Hamid Max Nico. Tak terkecuali Adnan Buyung Nasution yang kala itu mahasiswa dan hadir di persidangan SH.

WhatsApp Image 2020 07 05 at 05.55.49
Pada tanggal 14 Agustus 2016 saya dan peneliti Sejarah Hukum Lambang Negara, Turiman Faturahman Nur kembali bersilaturahmi ke kediaman Gusti Samsumin mohon doa dan dukungan dalam memperjuangkan Sultan Hamid Sang Perancang Lambang Negara menjadi Pahlawan Nasional

Jalur lain, tentu ekspose, riset mesti tetap berlanjut walaupun tanpa dana. Seperti Film Dokumenter SH sedang digarap sineas muda Kalbar. Mungkin jalur ini akan efektif. Efektif membuka “buta” mata sejarah anak-anak bangsa–cucu cicit nusantara–sedulur Ibu Pertiwi.