Film efektif dilansir ke You Tube sehingga bisa disaksikan dan dikomentari, dikritisi oleh siapa pun juga. Tentu sesuai fakta yang nyata. Bukan argumentasi serta ‘like and dislike’ semata.
Termasuk kalau saja terbukti SH berada di pihak yang benar” maka hak-haknya mestilah dikembalikan. Saya pikir, warga Kalbar butuh membaca sejarah pemimpin daerahnya dengan bersih. Sehingga mereka tak “inferior” di level nasional/internasional, sebab sejak dulu para pemimpinnya ketika muncul ke permukaan kebanyakannya–negatif selarat–negatif melulu. Lihat saja kasus Akil Mochtar. Wakil rakyat di parlemen “begasak atawa betinju”. Etnis tertentu dipropagandakan “makan oranglah”. Pertikaian etnik berdarah-darah. Genosida Jepang dsb. Semua itu pikir saya negatif dan pantas dilibas menjadi positif.
Saya pikir mumpung Pak Sam, Massuka Djanting, Pak Darto dll masih hidup…Jangan kita lalai. Lalu Kalbar selalu jadi penonton–bahkan SDA-nya dikuras tanpa pemimpin-pemimpinnya berdaya dengan leadership strong bicara “Ini Loh Kalbar! Kalbar mau bergaining begini-begini atau begitu-begitu….”
Sebagai jurnalis yang terus mengikhtiarkan terkuaknya fakta-fakta yang aktual, lihat foto dokumentasi SH Foundation. Betapa bersahabatnya Bung Karno, dan Hatta dengan Hamid. Lihat pula betapa ramainya warga Ibu Kota Djakarta saat itu untuk menyaksikan SH diadili. Sebagai jurnalis dengan langgam kerja 5W plus 1 H saya bertanya, “Kenapa ramai sekali? Ada ketertarikan apa rakyat Indonesia saat itu? Mereka digerakkan datang atau datang dengan hati nurani? Sehebat apakah SH saat itu di pentas nasional? Bagaimana jalan ceritanya, bahwa Kalbar adalah negara merdeka dan berdaulat penuh sebagai wilayah NKRI terakhir bergabung dengan Republik Indonesia? Banyak hal menjadi misteri dan itu semua sungguh amat sangat menarik…
