in

Haji Kepinding

teraju.id, Purnama – Berhubung kita memasuki bulan peringatan Isra’ dan Mikraj, maka beberapa hal patut diketahui. Menurut ahli tafsir, Drs H Arief Hasbillah, M.Ag yang juga Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Muhsinin, ada hal menarik dan lucu tentang perjalanan Nabi SAW dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Palestina. “Kok bisa terjadi dalam satu malam ya? Padahal jarak tempuh masa Rasululullah yakni berkendaran onta berhari-hari?”
Dilanjutkan pria bertubuh gempal ini, jangan kan menggunakan kendaraan onta, pakai Mobil Toyota pun masih butuh waktu lebih kurang 18 jam.

“Bagaimana Nabi tidak menjadi bahan tertawaan kaum kafir Quraish saat itu lantaran dinilai tidak logis?!”
Nah, Arief dengan arif dan bijak menerangkan bahwa Nabi SAW dalam dalil naqli (wahyu) berkata, bahwa dia diperjalankan. “Yang memperjalankan adalah Allah SWT.” Dengan demikian relativitas ruang dan waktu menjadi tidak berlaku.

Di sinilah Arief Hasbillah menggambarkan kisah “senget” bin lucu tentang Haji Kepinding. “Kepinding tahu?” ungkapnya kepada majelis pengajian Isra’ dan Mikraj?
Jamaah menjawab, tahu. Yakni binatang yang sangat kecil.
“Nah, kepinding tak mungkin bisa berangkat haji dengan tubuhnya yang sangat kecil itu. Sebab tidak masuk akal. Namun jika dia menempel di kopiah haji seorang jamaah. Maka si kepinding bisa ikut terbang dari Pontianak ke Batam. Dari Batam ke Jeddah. Dari Jeddah ke Mekah. Jadilah dia haji kepinding.”

Baca Juga:  Apakah Haji Furoda itu Haji Atas Undangan Raja?

Ketika si kepinding ini ikut pulang ke Pontianak, dia bercerita kepada sesama kepinding. “Bahwa aku telah berhaji.” Tentu kepinding lain tertawa terbahak-bahak. Sebab tak mungkin dengan tubuh kecil mungil kepinding bisa sampai ke benua Afrika.

Tetapi logika membenarkan, bahwa dia bisa berhaji karena “diperjalankan”. Ia menempel di kopiah haji seorang jamaah.

Begitulah, kata Arief Hasbillah. Jika ada orang yang bertanya soal logika keberangkatan Muhammad dari Mekah ke Palestina bahkan sampai langit ketujuh hanya dalam satu malam, bahkan menurut riwayat tempat tidurnya pun masih panas, adalah logis. Kisahkan saja perihal Haji Kepinding. Jamaah yang mendengarkan pun tertawa lebar. (Nuris)

Written by Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

Turut Berduka Cita – Pemkot Pontianak

Telur Goreng yang Fantastis