in

MENIKMATI CERITA BAPAK

Oleh: Hermayani Putera

Mulai kemarin hingga Minggu nanti Bapak menginap di rumah. Sejak Ibu masih ada hingga wafat Februari 2016, beliau berdua rutin menyambangi rumah kami bersaudara, menginap semalam hingga beberapa malam, membuat para cucu selalu merindukan kehadiran Neang dan Ai tersayang. Neang dan Ai adalah panggilan kasih kepada Nenek dan Kakek di kalangan masyarakat Sanggau, Sekadau, Sintang, dan Putussibau. Mungkin juga di daerah lain di Kalbar.

Beliaulah orang pertama dan utama yang mengenalkan kami bersaudara pada dunia buku dan literasi. Ketika masih di Sanggau, beliau menyediakan kami bacaan bermutu. Ada harian Kompas, majalah anak-anak Bobo serta majalah dakwah Panji Masyarakat (Panjimas) dan Kiblat. Walaupun koran Kompas telat datang sehari, kehadiran koran yang baru kehilangan sang pendiri Jakob Oetama ini dan beberapa bacaan lain selalu ditunggu.

Tradisi ini terus berlanjut ketika kami pindah ke Pontianak tahun 1980. Sabtu sore adalah hari yang dinanti, karena Neang dan Ai biasanya membawa kami ke toko buku yang ada di Pontianak. Kalau tidak ke TB Menara di Pasar Tengah atau ke TB Juanda.

Pagi ini, sambil menemani beliau sarapan pepaya dan susu coklat Milo, saya bercerita kepada Bapak tentang buku “Etos Kerja, Pasar, dan Masjid” karya almarhum M. Luthfi Malik. Buku yang semula adalah disertasi penulis di Program Studi Sosiologi FISIP Universitas Indonesia tahun 2010, mengkaji tentang arti penting pemimpin dalam proses transformasi masyarakat yang membentuk struktur sosial.

Struktur sosial ini sangat khas lokal dari masyarakat pedagang Gu-Lakudo, tidak bisa disamakan dengan struktur sosial masyarakat pedagang dari etnis lain. Sekarang, Gu-Lakudo secara administrasi berada di Kab. Buton Tengah.

Buku ini saya beli sekitar tiga tahun lalu. Selain isinya yang menarik, lokasi penelitiannya di Sulawesi Tenggara, kampung halaman Bapak juga menjadi alasan lainnya.

Setelah sempat diskusi sebentar tentang isi buku ini, yang terjadi kemudian adalah cerita tentang masa kecil beliau tentang Gu-Lakudo ini. Cerita yang belum pernah saya dengar sebelumnya.

Ketika menginjak umur 9-10 tahun, sekitar kelas 4-5 SR, liburan adalah waktu yang sangat dinanti oleh Bapak. Saat libur, Bapak selalu diajak Datok La Zamu, ayah beliau. Datok kami ini buta aksara latin, tapi fasih berbahasa Bugis yang sangat membantu dalam perniagaannya. Selain bahasa Bugis, beliau juga lancar menulis aksara Bugis yang disebut Lontara. Dengan aksara Lontara inilah Datok mencatat setiap transaksi dagangnya.

Datok dan Bapak berkeliling ke pasar di Gu-Lakudo, Lolibu, dan Lasongko. Bapak dilatih berjualan gambir, tembakau, dan rambu. Rambu ini adalah ujung dari sarung tenun Buton yang sudah digunting agar tampak rapi. Rambu ini masih laku dijual karena dipakai sebagai sambungan antar kain, sehingga bisa menghemat benang jahit.

Selain itu, Bapak juga pandai membaca peluang. Dalam perjalanan ke pasar, jika bertemu dengan penjual telur ayam, terung ungu, atau nangka yang sudah dibelah-belah untuk sayur, Bapak membeli secukupnya, dan dijual lagi di ketiga pasar tradisional ini.

Pasar Lakudo ini lebih berkembang dibandingkan Lolibu dan Lasongko. Areanya lebih luas, sehingga setiap hari pasar enam hari sekali lebih banyak pembeli dan penjual di sini. Jadi, kalau hari pasar sekarang adalah hari Senin, maka jadwal hari pasar berikutnya adalah hari Minggu, dan selanjutnya jatuh pada hari Sabtu. Begitu seterusnya.

Di belakang pasar Gu-Lakudo ada lapangan bola. Tiap hari Minggu sore selalu ada pertandingan bola antar kampung. Ini yang menambah semangat Bapak ikut Datok berdagang jika hari pasar bertepatan dengan hari Minggu. Karena ada bonusnya, melihat keramaian tanding bola antar kampung ini.

Di ketiga pasar ini bahasa perdagangan yang digunakan adalah bahasa Muna. Bapak yang sehari-hari berbahasa Wolio, jadi terpaksa harus belajar bahasa Muna untuk melariskan dagangan beliau. Bisa berbahasa Muna ini kemudian sangat membantu Bapak ketika dalam perjalanan hidupnya sekarang beliau didaulat sebagai salah satu sesepuh warga Sulawesi Tenggara di Kalbar.

Begitulah Bapak. Selalu ada bahan cerita jika menginap di rumah anak-anaknya. Atau pas kami kumpul-kumpul di rumah beliau. Ceritanya tak pernah putus. Kadang ada materi yang diulang, tergantung pada sisi mana beliau ingin menitipkan pesan tentang hidup dan kehidupan kepada anak cucunya.

Pagi ini, saya beruntung mendapat cerita yang sama sekali baru, belum pernah disampaikan sebelumnya. Ini semua berkat buku tentang masyarakat Gu-Lakudo.(*Penulis adalah aktivis sosial masyarakat dan lingkungan hidup. Menetap di Kota Pontianak)

Berbagi itu indah:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Enam Tahun Memperjuangkan Bintang Kehormatan, Tokoh DPD Medan Kompak

Tahun 2012 Saja Kerusakan DAS Kapuas Sudah 89 Persen Menurut Data Pemerintah Pusat