teraju.id, Pontianak – Perang. Tak enak mendengarnya. Apalagi era kesejagatan, di mana semua bisa disaksikan, diverifikasi untuk mendapatkan kebenaran.
Perang. Mahal. Kalah jadi abu. Menang pun jadi arang. Rugi. Sama-sama menderita. Apalagi anak-anak dan perempuan. Orang-orang tua. Mereka yang sudah sakit karena kemiskinan. Kemelaratan. Terjun bebas.
Perang hanya memikirkan ego orang-orang kuat dan merasa kuat. Sombong. Dan kesombongan dalam sejarah pasti akan tumbang.
Kurang kuat apa Paraos. Fir’aun. Angkatan Perang dengan Panglima Haman dalam genggaman. Sumber sumber ekonomi dan kekayaan dalam pundi-pundi serta kunci-kunci konglomerasi Qorun dalam pundak kekuasaan. Tumbang. Hanya dengan sebuah tongkat ajaib seorang “budak” bernama Musa (Moses) yang diback-up tauhid: Ketuhanan Yang Maha Esa. Tuhan yang bicara langsung kepada Musa di Bukit Sinai. Memberikan jimat cahaya di balik bakiak. Juga tongkat yang bisa membelah laut jadi highway. Jalan raya. Way out. Jalan selamat. Juru selamat. Rahmat bagi alam semesta.
Tongkat yang bisa menjelma anakonda. Memakan senjata-senjata sihir kata-kata. Sihir politika. Sihir peluru-peluru berbisa.
Perang? Rugi. Kasih sayang dan damai? Untung.
Daripada berebut sumber minyak dan tanah serta air dan pasir, lebih baik rukun, kompak, bersatu, seperti rumah tangga. Menikah sajalah. Janji setia. Maka cinta akan melahirkan kasih sayang. Melahirkan keturunan penguasa dunia yang memakmurkan. Bukan menghancurkan.
