Opini

War and Harmony in Diversity

War and Harmony in Diversity

Coba lihat arsitektur kerrrren sekaleee dibom. Dirudal. Ditenggelamkan.
Uang yang dikeruk dari minyak, tanah, air dan pasir diluluhlantakkan dalam sekejab. Siapa yang memikul beban? Pajak. Rakyat. Dibebankan kepada rakyat.
Maka rakyat yang kasih amanah kekuasaan kepada pemimpin negeri mesti bersuara. Berteriak. Ambil sikap bersatu. Padu. Cabut amanah mereka yang zalim.

Kenapa rakyat? Dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Itulah esensi demokrasi. Kalau rakyat ditindas dari pemimpin negeri yang dipilih lewat pesta demokrasi bersikap otokrasi, sama saja dengan democrazy. Demo-gila. Raja gila.

Petuah Nusantara secara filosofis kesejarahan meletakkan nasihat bijak: raja alim raja disembah. Raja zalim raja disanggah.

Mari kita lihat perang-perang di bulan suci Ramadhan:
Pertama, Perang Badar (17 Ramadhan 2 H/624 M). Perang besar pertama antara kaum Muslimin dan Quraisy Makkah, di mana Rasulullah SAW memimpin 313 orang melawan 1.000 pasukan Quraisy. Menang! Kenapa? Islam diserang. Islam hanya bertahan mati-matian karena percaya akan adanya Sang Hyang Widi Wasa. Tuhan Yang Maha Esa lagi Kuasa Perkasa. Proven. Terbukti.