Saya juga memiliki pengalaman ketika membantu nenek ke kebun untuk mengambil ubi kayu. Saat itu, nenek bertemu dengan temannya. Kemudian mereka terlibat perbincangan menggunakan bahasa Bugis. Dan tentu saja saya hanya melongo, tidak mengerti apa yang mereka bincangkan.
“Ni, angkotkan lame tuh?” ucapnya menyuruhku mengambil lame.
Apa itu “lame”? Saya tidak tahu, tetapi coba menebak. Dengan bodohnya saya pun mengambil pucuk daun singkong yang sudah terikat. Nenekku dan temannya pun menertawaiku. Ternyata yang nenekku maksud “lame” itu adalah singkong atau ubi kayu.
Banyak faktor yang menyebabkan kurangnya penggunaan bahasa ibu. Mungkin dari diri sendiri yang tidak ingin belajar memahami karena minder, lingkungan yang kesehariannya menggunakan bahasa Indonesia ataupun bahasa Melayu, serta jarangnya penggunaan bahasa ibu di rumah.
Hingga akhirnya kini saya menyesal karena tidak mengenali bahasa ibu yang seharusnya menjadi identitas diri saya. Saya pun mulai mencoba memahami bahasa ibu saya yakni bahasa Bugis dengan lebih banyak bertanya dengan orang yang lebih tahu bahasa Bugis. (*)
