Berita

Anak Pontianak “Rindu Nasi” di Eropa

Anak Pontianak “Rindu Nasi” di Eropa
Syafaruddin Daeng Usman bersama istri di Den Haag Holland Belanda

Tentu saja si pelayan seorang bule kulit putih berhidung mancung itu kaget. Maklum suara teman kami tadi lumayan kerasnya. Tapi, aku cepat menengahi dan berkata apa yang ditanyakan kepada si pelayan resto mini ini.

Dalam hati aku bergumam, inilah kalau waktu sekolah dulu malas ikuti pelajaran bahasa Inggris, jadi ngertinya harus buka kamus atau dibantu AI.

Tapi, sungguh di luar dugaan. Tiba-tiba seorang pelayan lain mampir, dan bertanya dalam bahasa Indonesia. Sungguh di luar dugaan kami. Ternyata anak muda ini asal Banjarmasin, sudah empat tahun lebih bekerja di Holland.

Segera kudekati dia, dan layaknya rindu kampung halaman kami semua pun tertawa lepas. Kini giliran pramusaji yang satu tadi balik kebingungan, mungkin saja dia bertanya apa yang kami semua omongkan.

Anang nama anak muda tadi segera menyapa si bule Holland bernama Nick menjelaskan cerita barusan. Dan diapun ikut tertawa lepas. Dan malam itu kami hanya menikmati roti bakar dioles selai, tentu dengan kopi dan ada juga teh.

Setelah hampir satu jam kami pun pulang ke penginapan. Sepanjang jalan gaya khas anak Pontianak “balek ke rumah” pun tak terlewatkan. Ada saja ketawa-ketiwi kami bersama.