in ,

Beratnya Perdamaian Dunia tapi Tetap Kita Mendukungnya

teraju.id, Century Park – Sastrawan Indonesia Taufik Ismail bicara perdamaian dunia di ajang Leadership Training Rakornas Binabud, Jumat, 13/3/20 bertempat di Century Park Hotel, Jakarta. Pria berumur 84 tahun ini adalah ketua pertukaran pelajar Binabud pertama di Indonesia, dan kini telah mempertukarkan ribuan pelajar Indonesia. “Sejak dulu Kak Taufik mengawal Binabud untuk perdamaian sebagai menyikapi perang dunia yang kejamnya luar biasa. Pendekatannya adalah pendidikan antarbudaya,” ungkap salah seorang Dewan Pembina, Irid Agus.

Kunci perdamaian lanjut Taufik adalah saling tolong menolong dan harga menghargai antara umat manusia tanpa membedakan ras, suku, agama, dan antargolongan.

Taufik di hari penuh berkah juga meluncurkan Keluarga Antarbudaya AFS. Seluruh alumni menyatu untuk kolaborasi damai untuk mewujudkan Nusantara yang sejahtera. Taufik bertasyakur turut mengawal lebih setengah abad Binabud/AFS Indonesia. Ia membacakan puisi atas kisah remajanya mengikuti kegiatan di Manhattan, tahun 1956. Bersama berjalan. Bersama bertukar pikiran, “Kalian akan menemukan perdamaian”.

Taufik menatap Gedung PBB dan markas AFS Internasional, namun ia ragu, puluhan tahun menanam bibit perdamaian, bumi dipenuhi gelombang dan badai dahsyat. Menanam pohon satu per satu, diharapkan lambat laun menjadi hutan. (nuris)

Berbagi itu indah:

Written by Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

My Memorable Year

Separo Pemimpin Diciduk KPK “What’s Wrong with Us”