NB: Soal “berisik” dan kemudian Pusat peduli, sesuai liputan saya di bidang pers selama di pers kampus sampai pers pro: 1] Ketika ada tokoh Parpol di Kalbar bilang “kalau begitu kita merdeka saja!” kemudian Pusat mulai lakukan pendekatan khusus. Pangdam sibuk. Kementerian ikut sibuk. Semua keinginan politik lalu dipenuhi. Contoh hal serupa terjadi juga di Papua, Aceh, Maluku. 2] Pasang bendera Malaysia di desa-desa perbatasan. Karena ‘berisik” Pusat “terusik” lalu perbatasan dapat sokongan pembangunan. Dapat perhatian ekstra. 3] Perubahan patok tapal batas.NKRI kemudian ribut, sementara pulau Sipadan-Ligitan lepas akibat tidak diurus serius. Ini semua fakta dalam liputan pers….
Silahkan dibijaksanai ….
Namun satu hal perlu dicatat, sebagai inversi dari ribut-ribut dan berisik-berisik, bom atom itu bisa meledakkan Hiroshima dan Nagasaki bukan karena ramainya keributan sekelompok orang tapi hanya 1 atom. Satu senyawa…Dari sini kita bisa ambil hikmah, selama ada yang terus bergerak dan mengingatkan, insya Allah suatu waktu akan ada “ledakan atom” sejarah tentang Lambang Negara Elang Rajawali Garuda Pancasila dan soal tetek-bengek gelar Pahlawan Nasional. Yakinlah. Yakin haqqul yaqiiin. *
Benarkah Buat Ribut dulu Baru Kita Didengar?
