“Mari kita rawat spirit itu, sehingga kita tidak sekedar kumpul-kumpul,” timpalnya seraya menambahkan bahwa apa yang dilakukan dengan peluncuran buku Sastra Lokal ini sebagai bagian dari gerakan perubahan sosial. Contoh lain di Jogjakarta. Sastrawan Romo Mangun Wijaya bisa melakukan perubahan sosial. Begitupula Pramudya Ananta Tour hingga Prof Dr Buya Hamka. “Ini yang sering kita bahas dalam banyak pertemuan,” ujar pria yang terkenal dengan buku laporan perjalanannya berjudul Sepok.
“Dulu kita bilang berkarya-berkarya saja untuk tahap awalnya. Nah, sekarang karya itu ada, namun mari kita tingkatkan ke esensialnya. Oleh karena itu perlu melihat sejarahnya, berkait ideologi, kolonialisme, hingga reformasi. “Apakah di Kalbar akan muncul sastra revolusioner? Sastra yang berpihak pada rakyat? Atau malah absurd?” Pay menantang audiens. Lalu dia menutup dengan kalimat tanya, “Mau kemana kesusasteraan kita?”
Pay berharap dengan peluncuran buku Sastra Lokal Kalbar, semoga jadi pemantik bertumbuhnya karya sastra esensial dengan dampak perubahan sosial yang mendidik selain rona keindahan yang dipancarkannya. (Nuris)
