Oleh: Yusriadi
Sore itu, saya membersihkan semak di samping rumah. Saya berusaha membuang belukar yang sudah cukup tinggi yang lama terbiar. Arit berganggang besi dilas cukup tangguh untuk pekerjaan ini, sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama keadaan menjadi lapang.
Sebenarnya, ritual menebas rerumput salah menjadi pilihan refreshing bagi saya. Sebelum sistem kehadiran kantor diberlakukan ketat seperti sekarang, plus tugas rumah belum banyak dan hampir seluruhnya ditangani istri, sesekali waktu di pagi hari saya manfaatkan untuk urusan rumput dan tanaman. Ketika keringat mengalir saya menjadi lebih ‘ringan’ dan fres. Ketika hasil tanam bisa dipetik/panen, saya merasa “gah” sendiri. Senangnya ….
Nah, ketika tebasan saya sampai di pohon salam di ujung tanah belakang, saya merasakan gah –seperti biasa. Pohon salam itu kami tanam sewaktu mula membangun rumah. Bibitnya dibawa emak dari tempat lama.
Sekarang pohon ini sebesar paha. Tinggi dari tanah ke cabang utama lebih kurang 1 meter. Bagian pucuk mungkin lebih kurang 5 meter. Ranting-ranting, sebagiannya dapat dijangkau dari tanah. Pohon tak sempat tinggi karena sering dibabat.
