Selama ini pohon salam itu menjadi objek istri dan tetangga kalau memasak daging atau sayur tertentu. Aroma yang khas membuat daun pohon ini disukai dan bermanfaat. “Besar jasa ya…pohon salam ini,” kata istri saya suatu ketika, sesaat setelah tetangga yang akan menyelenggarakan hajatan minta daun tersebut.
Kemarin, saya merasa senang karena pohon salam ini berbuah. Buahnya sebesar manik berwarna putih. Saya memetik beberapa biji dan memasukkannya ke mulut. Lumayan juga rasanya yang khas. Anak saya yang diberikan buah itu, mencoba, tetapi kemudian meringis. Reaksi ini mengundang tawa kami semua.
Sambil memamah buah-buah salam, saya lantas teringat masa lalu. Sewaktu kecil saya sudah diperkenalkan dengan buah jenis ini: ada beberapa jenis ubar, ubah, bungkang. Buah salam ini, lebih dekat ke rasa bungkang, sedangkan dari sisi warna lebih dekat pada ubar putih –jenis ubar ada macam-macam warna.
Pada musimnya, buah ini termasuk buah favorit kami di kampung. Kami “belampik” –memanjat dan membuat tempat duduk senyaman mungkin di atas pohon, lalu menikmati buah tersebut. Mematahkan ranting dan memetik buah, lalu memamahnya segenggam sekaligus. Memang buah ini tidak mengenyangkan karena isinya tipis. Tetapi, rasa manis dan sepat cukuplah untuk menggoyangkan lidah.
