
“Saya dulu tak betah kerja di border, kini betah. Kita bisa bolak balik ke Putussibau,” kata aparat perhubungan di Gedung Border, Indrayogi. Pria ini mengaku bangga, sebab dahulu dia pernah merasakan sakitnya menempuh Badau. Binatang hutan seperti babi, rusa, orang utan bahkan ular pun sering melintas sekaligus mengancam keselamatan. Ia juga pernah mengalami pecah ban di jalan. “Terpaksa saya memasukkan pakaian ke dalam ban sehingga menaiki motor laksana kuda. Saat sampai Putussibau, jeruji ban kendor semua,” kenang dengan mata berkaca-kaca.
Bangunan border dahulu seperti “rumah hantu”. Besar, lusuh, berdebu. Lambat laun makin lusuh. Pantas jika pelintas batas Indonesia merasa minder ketimbang Border Lubuk Antu milik Malaysia.
Sejak diresmikan Presiden Joko Widodo pada Maret 2017 PLBN di atas lahan seluas 8,8 Ha tampak eksotis. Luas bangunan 7.619 m2 berdiri gagah dengan arsitektur rumah panjang. Kemegahannya setimbang dengan biaya pembangunan dirogoh sebesar Rp 153 miliar. Di PLBN megah ini terdapat bangunan utama, pos lintas kendaraan pemeriksaan, bangunan pemeriksaan kargo, bangunan utilitas, monumen, gerbang kedatangan dan keberangkatan, serta hardscape dan landscape kawasan yang diharapkan dapat melayani hingga 360 pelintas per hari sampai dengan tahun 2025.
