Beberapa hari sebelum 12/1/17 ini saya mengantarkan mertua ke Bandara Soepadio dengan tujuan Sintang. Beliau orang Sintang dan berumah di Sintang. Rumah mertua ini bahkan bersebelahan dengan Asrama Keuskupan Sintang. Selama hidupnya, kerukunan tak pernah terusik. “Sintang aman dan baik-baik saja,” ungkap beliau yang sedang berada di rumah yang bertetanga dengan Keuskupan Sintang tersebut. “Tak perlu ditanggapi berlebihan,” ungkapnya.
Asrama Keuskupan Sintang juga bersebelahan dengan Masjid Raya An Nur serta Kantor Bupati. Selama ini aman dan diliputi semangat toleransi yang tinggi. Saya sebagai jurnalis yang suka memperhatikan isu-isu konflik, yakin hakkul yakin, Sintang akan mampu mempertahankan reputasi bahwa kota ini tetap rukun dan tetap menjunjung tinggi spirit toleransi.
Daerah lainya jangan “ngipas-ngipasi” sehingga menjadi kompor alias provokator. Sebab konflik kekerasan berujung anarkis selalu mengajarkan suatu hal: kalah jadi abu, menang pun jadi arang. Sama-sama merugi.
(*Penulis adalah Pemred Media Online teraju.id dan pengajar jurnalistik di Fisipol Untan dan IAIN Pontianak)
