2.
Meski tanpa dukungan dana dari Disbud DKI Jakarta atau lembaga kebetawian, acara berjalan sukses bahkan dihadiri kalangan akademisi, pers, sastra, sejarah, budaya, dan film. Hal ini sangat beralasan, karena Disbud DKI memang sangat minim dalam mengapresiasi dan memfasilitasi karya tulis sastra, sejarah dan budaya, dan tidak tertarik mengapresiasi hasil kerja pikiran dengan selalu memberi alasan “tidak ada dana” saat diketuk untuk menjadi berguna. Namun sangat mendukung acara keriaan dan hura-hura yang menghamburkan dana ratusan juta hingga milyaran, meski tidak meninggalkan jejak apapun kecuali sampah acara.
Pada Oktober 2025 misalnya, CGR menolak bukunya, “Kembang Kelapa: Setangkle Catatan Budaya ~ Betawi dari Batavia hingga Jakarta”, diterbitkan oleh Disbud DKI Jakarta, karena hanya untuk dicetak 30 eksemplar. Di sisi lain, kalangan mapan dari bidang seni, budaya, sejarah, politik, lembaga pendidikan, bisnis perumahan, jalan berbayar, juga serupa pemikirannya dengan Disbud DKI Jakarta. Keberadaan hasil kerja intelektual memang berbeda dengan pemenangan seseorang terkait pemilihan pemimpin Ibukota yang memungkinkan dalam waktu satu jam berkumpulnya kalangan mapan dalam kesamaan ras dan kepentingan, terhimpun “dana hibah” hingga tiga milyar rupiah. Lembaga swasta yang diharapkan memiliki nalar-nurani, kepedulian dan kecerdasan budaya-budaya, kedekatan psikologis, terkait bahasan di dalam buku, tidak ada yang memberi tanggapan saat digugah menjadi pemberi dana hibah pencetakan atau melakukan apresiasi dalam bentuk pembelian hasil cetakan yang menampilkan nama di sampul dan dalam buku sebagai pemberi sambutan.
“Kita lebih senang menebang pohon dan menjadikannya sebagai kayu bakar untuk menerangi diri sendiri, ketimbang menanam pohon untuk dinikmati anak-cucu.”
DJALI-DJALI BINTANG KEDJORA: KUMPULAN CERITA SEJARAH DAN BUDAYA ~ BETAWI, BATAVIA, JAKARTA
