Pada awalnya, ia terkejut saat datang ke Pontianak. Ia menyaksikan perbedaan budaya masyarakat Pontianak dengan masyarakat Malang. Di Malang itu masyarakatnya bila ada sebuah tempat makan, mereka akan lebih sering makan di tempat yang biasa mereka langgani. Tidak berpindah ke lain hati.
Berbeda dengan di Pontianak, di sini apabila ada tempat baru mereka akan berbondong-bondong pergi dan pindah ke tempat baru, terlepas dari seberapa enak makanan itu dan seberapa mahal harganya.
Akbar bernostalgia tentang proses awal dirintisnya Juara Resto ini, “Kebetulan saya merintis restoran ini sudah masuk tahun ketiga. Awalnya posisinya belum di sini tapi di jalan Urai Bawadi. Dan baru 2 atau 3 bulan lah pindah ke sini.” Pria berkumis ini menambahkan, memang agak lama proses bukanya, karena ngonsep semuanya sendiri, dan sedikit bantuan teman-teman yang tahu tentang arsitek dan masalah material. “Sebenarnya sih konsepnya belum finish karena kita belum grand opening, semoga sih grand openingnya bisa dikejar bulan ini juga,” harapnya.
“Untuk ke depannya kita akan menyajikan menu-menu baru seperti chinese food, seafood dan jajanan martabak dengan toping-toping yang aneh,” pungkas Akbar.
